Capek juga jadi mahasiswa..
Di kampus teknologi,lagi.
Di kampus ini gak ada yang namanya ilmu IPS, sosial, humaniora atau semacamnya..
Semuanya dianggap seperti barang.
Layaknya cashflow dalam industri.
Input --> proses --> output
Variabel manusia jadi gak dianggap..
Hihihi..
Jadi bahan baku atau jadi mesin pemroses aja.
Anyway, that's called Technology.
Science, Engineering, and Arts.
Here I am, In Institut Teknologi Bandung
Wednesday, April 23, 2008
Wednesday, April 16, 2008
Antara Tujuan, Parameter, dan Feedback
Hari ini, tepatnya malam ini, seorang Iwa mengajarkan kepada saya tentang : Tujuan, Parameter, dan Feedback.
Sebagai pemimpin yang (minimal) memimpin diri sendiri, sudah selayaknya kita memiliki tujuan. Tujuan ini penting, sepenting memiliki arah gerak perjalanan.
Kedua, adalah parameter. Parameter adalah syarat ketercapaian tujuan. Artinya, parameter yang terwujudkan mengindikasikan ketercapaian tujuan.
Ketiga, feedback. Jangan melupakan pentingnya feedback untuk mengingatkan kita. Bisa jadi, ada variabel di luar tujuan dan parameter yang belum terpikirkan, yang dapat mempengaruhi ketercapaian tujuan itu sendiri. Dan seringkali, ini datangnya dari luar. Bukan dari dalam diri kita.
Demikian : tujuan, parameter, feedback..
Sebagai pemimpin yang (minimal) memimpin diri sendiri, sudah selayaknya kita memiliki tujuan. Tujuan ini penting, sepenting memiliki arah gerak perjalanan.
Kedua, adalah parameter. Parameter adalah syarat ketercapaian tujuan. Artinya, parameter yang terwujudkan mengindikasikan ketercapaian tujuan.
Ketiga, feedback. Jangan melupakan pentingnya feedback untuk mengingatkan kita. Bisa jadi, ada variabel di luar tujuan dan parameter yang belum terpikirkan, yang dapat mempengaruhi ketercapaian tujuan itu sendiri. Dan seringkali, ini datangnya dari luar. Bukan dari dalam diri kita.
Demikian : tujuan, parameter, feedback..
Thursday, April 10, 2008
jadi manusia itu..
berpikir idealis, tapi bertindak realistis
menggantungkan cita-cita setinggi langit, tapi kaki tetap menjejak bumi
bervisi masa depan, tetap konkrit di masa kini
egois kepada diri sendiri, tapi tetap kontributif kepada masyarakat..
dan tetap semangat!!!
menggantungkan cita-cita setinggi langit, tapi kaki tetap menjejak bumi
bervisi masa depan, tetap konkrit di masa kini
egois kepada diri sendiri, tapi tetap kontributif kepada masyarakat..
dan tetap semangat!!!
Tuesday, April 8, 2008
Jadilah anak dunia, jangan jadi anak indonesia saja!
Saya suku Bugis, salah satu suku pelaut di Indonesia. Kami dari Makassar. Senang merantau ke mana-mana. Kalau dulu pakai perahu, tanpa perahu pun kami bisa. Kami adalah para penjelajah.
Saya adalah orang balikpapan. Kota jasa di Indonesia, salah satu kota peraih penghargaan adipura berturut-turut di Indonesia. Bandara kami adalah bandar ketiga tersibuk di Indonesia. Kami adalah gerbang utama Kalimantan Timur.
Saya (pernah) sekolah di Magelang. Sama-sama kota jasa juga. Cuma kultur heterogennya mendidik saya sebagai manusia sebenar-benarnya.
Sekarang saya ada di Paris van Java ( Paris-nya Jawa ), Bandung. Salah satu koya besar di Indonesia, meski penduduknya gak banyak-banyak amat. Tapi, kultur kreatifnya terlihat hampir di setiap kepala anak mudanya. Ditambah kampus tekniknya, Bandung benar-benar menjadi teknologi dalam arti sbenarnya. Teknologi = sains, rekayasa dan seni.
Nanti, saya mau naik haji ke Tanah Suci Mekkah di Arab Saudi.
Suatu saat, saya akan berkuliah di Jepang.
Akan datang saat di mana, anda bertemu dengan saya yang sedang berwisata keliling Eropa.
Kita adalah anak-anak dunia, bung. Bukan cuma anak-anak Indonesia..
Saya adalah orang balikpapan. Kota jasa di Indonesia, salah satu kota peraih penghargaan adipura berturut-turut di Indonesia. Bandara kami adalah bandar ketiga tersibuk di Indonesia. Kami adalah gerbang utama Kalimantan Timur.
Saya (pernah) sekolah di Magelang. Sama-sama kota jasa juga. Cuma kultur heterogennya mendidik saya sebagai manusia sebenar-benarnya.
Sekarang saya ada di Paris van Java ( Paris-nya Jawa ), Bandung. Salah satu koya besar di Indonesia, meski penduduknya gak banyak-banyak amat. Tapi, kultur kreatifnya terlihat hampir di setiap kepala anak mudanya. Ditambah kampus tekniknya, Bandung benar-benar menjadi teknologi dalam arti sbenarnya. Teknologi = sains, rekayasa dan seni.
Nanti, saya mau naik haji ke Tanah Suci Mekkah di Arab Saudi.
Suatu saat, saya akan berkuliah di Jepang.
Akan datang saat di mana, anda bertemu dengan saya yang sedang berwisata keliling Eropa.
Kita adalah anak-anak dunia, bung. Bukan cuma anak-anak Indonesia..
Saturday, April 5, 2008
Sistem sosial, apa hubungannya dengan modal sosial?
Sistem sosial ( Ram charan ) adalah sistem komunikasi transparan antar individu dalam tim. Sedikit banyak, ini juga menyinggung tentang solidaritas tim. Secara sederhana, mengukur sistem sosial suatu komunitas adalah dengan "membaca" transparansi komunikasi antar mereka. Apakah semua informasi disampaikan ? Kalau ada yang tidak, mengapa ? Apa hubungan antar elemen sederajat tidak harmonis ? Atau sang pemimpin yang "memberi jarak" ?
Modal sosial ( Robby Djohan ), adalah kapital yang berasal dari hubungan antar individu atau antar komunitas. Potensial kapital ini berasal dari tingkat solidaritas intern dan "bridge" ke luar sistem komunitas internal. Artinya apa, suatu masyarakat yang punya hubungan erat antar individunya dan bersedia membangun jaringan dengan masyarakat luar komunitas, memiliki modal sosial yang kuat. Komunitas seperti ini tidak bergantung sepenuhnya kepada pemimpinnya, melainkan mampu "berjalan sendiri".
Oya, modal sosial diukur dari keterikatan komunitas terhadap pola tradisi di lingkungan masing-masing. Selain itu, ada juga variabel hubungan timbal-balik ( resiprositas ), saling menghargai, pernghormatan atas keberagaman ( kita biasa menyebut dengan toleransi ), dan lain-lain.
Nah, hubungan di antara sistem dan potensi ini apa? Membahas tentang keduanya, berarti membahas sebuah hubungan timbal balik. Modal sosial yang tinggi akan cenderung menciptakan keterbukaan berkomunikasi dalam berkomunitas. Sebaliknya, sistem sosial yang kokoh akan mempererat modal sosial yang sudah ada. Belum lagi, kalau modal sosial yang kokoh ini didukung oleh karakter dan budaya "proaktif berhubungan ke luar" alias membentuk jaringan.
Modal sosial ( Robby Djohan ), adalah kapital yang berasal dari hubungan antar individu atau antar komunitas. Potensial kapital ini berasal dari tingkat solidaritas intern dan "bridge" ke luar sistem komunitas internal. Artinya apa, suatu masyarakat yang punya hubungan erat antar individunya dan bersedia membangun jaringan dengan masyarakat luar komunitas, memiliki modal sosial yang kuat. Komunitas seperti ini tidak bergantung sepenuhnya kepada pemimpinnya, melainkan mampu "berjalan sendiri".
Oya, modal sosial diukur dari keterikatan komunitas terhadap pola tradisi di lingkungan masing-masing. Selain itu, ada juga variabel hubungan timbal-balik ( resiprositas ), saling menghargai, pernghormatan atas keberagaman ( kita biasa menyebut dengan toleransi ), dan lain-lain.
Nah, hubungan di antara sistem dan potensi ini apa? Membahas tentang keduanya, berarti membahas sebuah hubungan timbal balik. Modal sosial yang tinggi akan cenderung menciptakan keterbukaan berkomunikasi dalam berkomunitas. Sebaliknya, sistem sosial yang kokoh akan mempererat modal sosial yang sudah ada. Belum lagi, kalau modal sosial yang kokoh ini didukung oleh karakter dan budaya "proaktif berhubungan ke luar" alias membentuk jaringan.
Thursday, April 3, 2008
Totalitas : sekalipun harus mengalami ganti hari!!
Postingan ini dimulai pukul 1:06
kira-kira sudah 2 jam sejak memulai pekerjaan di sekre himp. dari jam 11 malem sampe jam 1 dinihari. Artinya, saya masih melek di saat pergantian tanggal. Buat saya, it's ok. Gak masalah. Toh, ini bagian dari totalitas individu untuk tim.
Lucunya, tau gak. Totalitas macam ginian cuma dikerjain sedikit orang aja di indonesia. Buktinya ada banyak. Kita mulai dari pemimpin kita. Sebagian besar cuma mengeruk keuntungan finansial untuk dirinya dan kroni-kroninya. Sedikit sekali ( kalau saya gak boleh bilang gak ada ) yang berjiwa melayani dan mengabdi.
Contoh kedua. Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) kita di pemerintahan. Datang telat ( biasanya di atas jam 8 ), buat kopi atau teh, ngobrol-ngobrol dulu baru kerja. Itu juga udah jam 10-an. Jelang istirahat siang, ke luar cari makan bareng teman-teman seprofesi. Makan, shalat, segala macem, masuk kantor telat. Kira-kira 1.30, harusnya jam 1. Lanjut kerja sambil ngobrol, masuk shalat ashar. Shalat sengaja diperlama. Supaya kalau dah masuk lagi, bentar aja terus pulang.
Contoh ketiga. Mahasiswa yang datang ke kampus seadanya. persiapan kuliah seadanya, syukur-syukur kalau presensi full. Habis itu, ujian dengan persiapan MBA ( management by adrenalin ), alias belajar h-1 ( tekanan psikologis baru muncul, soalnya ). Hasilnya juga biasa-biasa aja. Gak istimewa, gak nancep lama. habisnya, prosesnya instan,siy..
Itu yang pertama:totalitas. yang kedua:bekerja dalam tim.
Kalau ilmu matematika bilang: 1+1=2. kalau ilmu kerja sama tim, saya bilang:1+1=3. Lho, satu lagi darimana? yang satu lagi adalah variabel kerja sama. Setelah 2 individu, ada satu nilai kerja sama. Makanya, nilai 3. Dalam konteks yang lebih besar di masyarakat, ini namanya modal sosial.
Cakupan modal sosial ini antara lain: tingkat kepercayaan antar individu, resiprositas (ketimbal-balikan ), dan keterikatan satu sama lain. Keterikatan satu sama lain inilah yang menjadi modal sosial kuat di indonesia. sayangnya, tingkat kepercayaan antar individu sedikit rendah. jadinya, sentralisasi maupun kepemimpinan begitu mengakar untuk suatu pencapaian tujuan.
Sementara itu dulu, mo kerja lagi ahh..
kira-kira sudah 2 jam sejak memulai pekerjaan di sekre himp. dari jam 11 malem sampe jam 1 dinihari. Artinya, saya masih melek di saat pergantian tanggal. Buat saya, it's ok. Gak masalah. Toh, ini bagian dari totalitas individu untuk tim.
Lucunya, tau gak. Totalitas macam ginian cuma dikerjain sedikit orang aja di indonesia. Buktinya ada banyak. Kita mulai dari pemimpin kita. Sebagian besar cuma mengeruk keuntungan finansial untuk dirinya dan kroni-kroninya. Sedikit sekali ( kalau saya gak boleh bilang gak ada ) yang berjiwa melayani dan mengabdi.
Contoh kedua. Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) kita di pemerintahan. Datang telat ( biasanya di atas jam 8 ), buat kopi atau teh, ngobrol-ngobrol dulu baru kerja. Itu juga udah jam 10-an. Jelang istirahat siang, ke luar cari makan bareng teman-teman seprofesi. Makan, shalat, segala macem, masuk kantor telat. Kira-kira 1.30, harusnya jam 1. Lanjut kerja sambil ngobrol, masuk shalat ashar. Shalat sengaja diperlama. Supaya kalau dah masuk lagi, bentar aja terus pulang.
Contoh ketiga. Mahasiswa yang datang ke kampus seadanya. persiapan kuliah seadanya, syukur-syukur kalau presensi full. Habis itu, ujian dengan persiapan MBA ( management by adrenalin ), alias belajar h-1 ( tekanan psikologis baru muncul, soalnya ). Hasilnya juga biasa-biasa aja. Gak istimewa, gak nancep lama. habisnya, prosesnya instan,siy..
Itu yang pertama:totalitas. yang kedua:bekerja dalam tim.
Kalau ilmu matematika bilang: 1+1=2. kalau ilmu kerja sama tim, saya bilang:1+1=3. Lho, satu lagi darimana? yang satu lagi adalah variabel kerja sama. Setelah 2 individu, ada satu nilai kerja sama. Makanya, nilai 3. Dalam konteks yang lebih besar di masyarakat, ini namanya modal sosial.
Cakupan modal sosial ini antara lain: tingkat kepercayaan antar individu, resiprositas (ketimbal-balikan ), dan keterikatan satu sama lain. Keterikatan satu sama lain inilah yang menjadi modal sosial kuat di indonesia. sayangnya, tingkat kepercayaan antar individu sedikit rendah. jadinya, sentralisasi maupun kepemimpinan begitu mengakar untuk suatu pencapaian tujuan.
Sementara itu dulu, mo kerja lagi ahh..
Subscribe to:
Posts (Atom)
.jpg)