Tadi pagi, sekitar jam 10-an, tiba-tiba terasa suntuk di rumah. Berasa dah bosan dengan keadaan yang ada. Tanpa bermaksud meninggalkan amanah-amanah yang ada, belakangan emang kerasa stuck dengan variabel-variabel yang mempengaruhi hidup.
Harusnya emang gak ke "kantor" di basement labtek 7 jl.ganesha 10, tapi rasanya harus pergi ninggalin rumah deh. Tapi bukan ke "kantor" yang satu itu, melainkan jalan-jalan cari ilham. Atawa cari ilmu baru, ato tujuan hidup yang "sedikit berbeda". Jadilah saya memutuskan "wisata buku" ke Gramed.
Baru nyampe di lantai 3, yang notabene banyak buku-buku baru dan buku-buku laris, saya nemukan judul "Fieldtrip of the toyota way". Baru inget lagi ke masa silam, pernah ngerencanain mo baca buku sbelumnya, yang bahas tentang konsep 4P-nya Toyota dalam judul "The Toyota Way". Begitu meyakinkannya isi buku yang tidak membahas omzet yang dimiliki Toyota, sampe penulisnya ngasi kata-kata : it's not about technology.
Balik lagi ke "Fieldtrip of The Toyota Way". Buku ini nyeritain tentang bagaimana implementasi konsep 4P-nya Toyota dalam perusahaan-perusahaan ( semoga saya benar-benar memiliki perusahaan farmasi yang bisa mengimplementasikan 4P ). Implementasi ini jadi hal penting pastinya, begitu kita ingin menciptakan perusahaan dengan kualitas proses, budaya, produk, dan manusia yang handal seperti yang dimiliki Toyota saat ini. Terbukti, mereka menguasai pangsa pasar mobil di seluruh dunia setelah mengambil alih dari salah satu perusahaan amerika.
Tadi ada Toyota Way, Fieldtrip of The Toyota Way, dan satu lagi,niy. Saya baru nonton Dorama ( baru episode pertama,siy ) yang nyeritain tentang Kerja Keras seorang anak muda yang mo jadi koki di suatu restoran. Dan unsur kerja keras ini juga yang saya dapatkan waktu nonton " Proposal Daisasuken " sebelum-sebelumnya.
Ketiga hal di atas, semuanya berasal dari Jepang. Seeprti kata Howard Gardner dalam buku " Five minds for The Future"-nya, adalah penting memiliki panutan/benchmark. Maka, jadilah saya menjadikan Jepang sebagai benchmark -- seperti ITB menjadikan Stanford University sebagai benchmark-nya --. Terutama terkait dengan perusahaan tersohornya, Toyota dan budaya Kerja Kerasnya. Memiliki acuan/panutan seperti ini, penting dalam membangun kapasitas/daya saing pribadi/kelompok dalam menghadapi masa depan yang memang tak pernah terduga.
Suatu hari nanti, mo kuliah dan jalan-jalan ke Jepang, ahhhh......
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
.jpg)
No comments:
Post a Comment