Tuesday, January 29, 2008

Masa depan, apa iya sebuah kepastian yang tidak bisa dihadapi?

Sesungguhnya, manusia tidak pernah benar-benar mampu memprediksikan apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Segala yang terjadi dalam hidup terjadi begitu saja, dalam rentang waktu yang bahkan tidak dapat diduga sama sekali, dengan peristiwa-peristiwa yang tidak bisa disangka-sangka apalagi diskenariokan sampai detail.
Tapi, bukan berarti manusia lantas berhenti berusaha, berhenti berikhtiar, apalagi berhenti ber-effort keras. Dalam beberapa hal, manusia mampu merencanakan dimensi-dimensi dalam kehidupannya,koq. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibu Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya "Mengelola Hidup Merencakan Masa Depan". Dengan kata lain, planning inilah salah satu yang saya garis miringkan dalam hidup. Artinya, termasuk bagian dari kerja keras dan kerja cerdas yang bisa dilakukan. Selain itu, dengan maksud meneruskan apa yang saya posting-kan dalam blog sebelumnya; yakni Five Minds for The Future, sedikit banyak juga berkait dengan menghadapi salah satu karakteristik masa depan : ketidakpastian.
The First Mind is ... Pikiran Terdisiplin. Ini menjelaskan pentingnya memiliki satu disiplin ilmu tertentu yang didukung oleh beberapa ilmu pendukung lainnya (eg:komunikasi, bahasa,sejarah, matematika,dll). Pemahaman yang mendalam disertai filosofi keilmuwan adalah ciri dari pikiran yang terdisplin ini. Kemungkinan, termasuk di antaranya adalah aspek aksiologis,epistemologi, dan ontologi. Biasanya, kata Howard Gardner, pikiran ini dicapai melalui proses pembelajaran yang memakan waktu lebih dari 10 tahun!
Pikiran Menyintesis adalah kemampuan membentuk sintesis dari pengetahuan-pengetahuan yang ada untuk diambil satu benang merah di antaranya. Bahkan, tindak lanjut dari pikiran yang mampu menyintesis ini adalah kemampuan membentuk jenis informasi/pengetahuan yang lebih baru. Kita dapat mengambil teori-teori tentang atom sebagai contoh. Sejak pertama kali ditemukan, teori-teori atom telah mengalami berbagai perubahan hingga sekarang. Dan perubahan-perubahan yang terus-menerus menyempurnakan dirinya itu adalah berasal dari pikiran-pikiran menyintesis!
Pikiran Mencipta adalah pikiran yang menginisiasi/membuat/mengadakan sesuatu hal baru; pikiran ini pastinya masih berhubungan dekat dengan kreativitas.Dan sesungguhnya, tidak pernah benar-benar ada manusia yang tidak kreatif. Percayalah!
Pikiran Merespek adalah pikiran-pikiran yang menghargai segala perbedaan-perbedaan positif maupun negatif yang terjadi di masyarakat atau antar individu. Semakin dewasa seseorang, biasanya lingkup pergaulannya akan semakin meluas. Tidak lagi di sekolah, atau kulaih. Tapi sudah masuk ke masyarakat, yang mana, memiliki lebih banyak variabel-variabel dengan perbedaan-perbedaan di antara sesama individu manusia.
Pikiran Etis adalah pikiran yang selalu berupaya untuk profesional, melakukan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan konteks masing-masing. Dalam beberapa hal di masyarakat, keinginan untuk melakukan sebagaimana mestinya terkadang terhambat oleh bagaimana sikap respek kita kepada anggota masyarakat yang lain. Dan bagaimana sinkronisasi / sinergisasi antar keduanya memang bukan hal yang benar-benar mudah.
Kelima pikiran di atas, bila dikuasai secara teori, maupun aplikasinya akan sangat membantu kita dalam menghadapi ketidakpastian yang selalu datang tanpa benar-benar pernah terprediksikan. Misalnya : wawancara pekerjaan, memiliki tetangga baru, menyikapi permasalahan kompleks yang baru datang, dan lain-lain.

No comments: