Thursday, July 3, 2008

tujuan,parameter, dan feedback.

Hari ini, dari pagi ada di himpunan. Pertama-tama, bukain pintu himpunan dulu. kuncinya ada di saya,soalnya. terus, ngikutin rapat bidang internal. Sayang, yang datang cuma dua divisi. Tiba-tiba jadi inget kalo ketercapaian suatu tujuan itu sebenarnya gak bisa dilihat dari satu sisi aja. Bidang internal diposisikan untuk mengkondusifkan suasana di himp. Nah, ketercapaian tujuan ini tidak bisa diparameterkan dari pendapat bidang internal saja. Tetapi juga, dari pendapat-pendapat anggota yang lain. Dalam hal ini, sudah tentu pendapat anggota pun berbeda-beda. kalo angkatan yang lebih senior dari BP akan berpendapat, "bagaimana keterlibatan angkatan atas?".
Nah, bagaimana kita menjawab pertanyaan ini?kita tunggu edisi selanjutnya..

Monday, June 30, 2008

Pagi yang aneh..

Semalem, tumben forum kaderisasi di kampus gak lama.Beresnya gak melewati tengah malam,maksudnya.Biasanya samapi melewatkan pergantianhari di kampus. beresnya itu,kalo gak jam 00.30-an ya jam 1.00-lah..tumben gak lma.Jam 23.45 dah beres..

Trus,malemnya tidur di himp.Ngoprek2 komputer dulu,ngambil medars dari Uci. Kagak punya filenya,soalnya. Sekaligus buat dokumentasi juga. Ini 'kan namanya manajemen pengetahuan. Hehehe..Habis itu, nonton film ahh.Judulnya spring story. Ceritanya soal cinta segitiga. Tapi, yang jadi ending-nya,yang pertama kali 'begituan' itu akhirnya yang menikah. Statement-nya gini,katanya, kalo kita ketemu lagi, kita langsung nikah aja.Walah..ingin juga,siy.

Pagi ini,harus ngumpulin tugas.Gara-gara dapaet nilai T buat mata kuliah tertentu. Hhh..maslahnya tugasnya juga belum beres, tapi Insya ALLAH deadline bisa dikerjar,koq.
Tugasnya bikin makalah, ngambil dari pustaka primer:jurnal ilmiah. Yah, semoga diterima jah,biar nilainya bisa dapaet B.Oya, sebenernya dapet C,siy.Berhubung dosennya memberikan kesempatan perbaikan,ya diambil aja.semoga beneran bisa naekin IP.Hehe..

Sekian untuk hari ini..

Tuesday, May 20, 2008

Kuliah, buat apa siy?

Tiap kali mo ujian, jadi inget tiap kali nanya teman "kuliah buat apa?". Rata-rata jawabannya ya buat cari kerja. Hehehe.. Lucu juga,ya. Jadi dapat kuliah, ikut praktikum, bikin laporan, de el el. Semuanya buat cari kerja. Gak ada niatan filosofis buat cari ilmu. Harusnya, kuliah itu 'kan dipake cari ilmu.

Fair-fair aja,ya. Saya mengakui saya salah jurusan. Tapi saya tetap tahu, koq. Kuliah ini saya posisikan sejauh apa. Yang jelas, buat memanusiakan manusia. Karena itu yang saya gak dapat di rumah..

Kuliah itu mendewasakan manusia-manusia yang belum dewasa..
Kuliah itu lebih mendewasakan manusia-manusia yang sudah dewasa..

Wednesday, May 14, 2008

aksi pornografi - pornoaksi

Hari ini diajak aksi,tapi malas ah. Gak konkrit. Apalagi memainkan integritas..

Thursday, May 1, 2008

80 Tahun Sumpah Pemuda, 100 Tahun Kebangkitan Nasional

Peradaban merupakan manifestasi kerja keras sekelompok manusia. Kerja keras yang dilakukan terus-menerus, kerja keras dari hari ke hari, hingga menghasilkan karya nyata yang berciri khas. Karya nyata yang akan dikenang oleh generasi-generasi setelahnya.
Karya-karya bangsa Jepang terkenal dengan inovasinya. Konsep Kaizen adalah konsep pengembangan berkelanjutan (continous improvement) a.k.a inovasi, yaitu kerja keras yang dioptimasi terus-menerus menghasilkan karya-karya inovatif. Perakitan Toyota innova yang hanya 4 menit, adalah buktinya. Bukti lain, informasi yang integratif pada Curcuma xanthorrhizae. Semua informasi menyatu dari ciri-ciri morfologi sampai data-data penjualan bahan baku. Atau, produk-produk elektronik mereka yang semakin kecil, kompleks, dan canggih dari waktu ke waktu.
Sedangkan bangsa Jerman dikenal lewat penemuan-penemuan barunya. Mereka adalah inventor sejati. Mereka selalu mendahului bangsa-bangsa lain lewat karya-karyanya. Ini juga terlihat dari gaya permainan sepak bola mereka. Kaku dan monoton, tapi kokoh.
Thomas Alfa Edison melakukan lebih dari 1000 kali percobaan untuk menemukan bola lampu. Tentunya, percobaan ke-1000 dilakukan setelah percobaan ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Ini bukan kerja keras yang mudah, pastinya.
* * *
Masih tentang kerja keras dan peradaban.
Tanggal 20 bulan ini, tepat 100 tahun lalu, beberapa orang pemuda bekerja keras mendirikan Organisasi Boedi Oetomo. Organisasi ini mengawali kebangkitan nasional. Kalau tidak ada momen pergerakan ini, bisa jadi kita tidak merasakan apa-apa yang kita rasakan sekarang. Dan pada tanggal 20 bulan ini, Kebangkitan Nasional memperingati usia ke 100 tahun.
Masih di tanggal 20 bulan ini, tapi tepat 80 tahun lalu, 3 baris kalimat Sumpah Pemuda diucapkan. Putra-putri Indonesia saat itu mengaku berbangsa satu, bertanah-air satu, dan berbahasa satu. Kalau segelintir pemuda saat itu tidak mengcucapkan 3 baris Sumpah Pemuda, bisa jadi kita tidak merasakan apa-apa yang kita rasakan sekarang. Dan pada tanggal 20 bulan ini, Sumpah Pemuda memperingati usia ke 80 tahun.
Tanggal 20 bulan ini, tahun ini, akan diperingati sebagai apa ? Apa saja yang sudah kita lakukan hingga karya kita hari ini akan diperingati ? 80 tahun lagi akan terjadi apa ? 100 tahun lagi akan ada apa?
Peradaban merupakan manifestasi kerja keras sekelompok manusia. Kerja keras yang dilakukan terus-menerus, kerja keras dari hari ke hari, hingga menghasilkan karya nyata yang berciri khas. Karya nyata yang akan dikenang oleh generasi-generasi setelahnya.
Setiap hari adalah momen. Setiap hari adalah kesempatan untuk bekerja keras menghasilkan karya. Setiap hari adalah kesempatan berkarya membentuk peradaban. Sudahkah kita melakukannya ?

Wednesday, April 23, 2008

Teknologi, apaan siy?

Capek juga jadi mahasiswa..
Di kampus teknologi,lagi.
Di kampus ini gak ada yang namanya ilmu IPS, sosial, humaniora atau semacamnya..

Semuanya dianggap seperti barang.
Layaknya cashflow dalam industri.
Input --> proses --> output

Variabel manusia jadi gak dianggap..
Hihihi..
Jadi bahan baku atau jadi mesin pemroses aja.

Anyway, that's called Technology.
Science, Engineering, and Arts.
Here I am, In Institut Teknologi Bandung

Wednesday, April 16, 2008

Antara Tujuan, Parameter, dan Feedback

Hari ini, tepatnya malam ini, seorang Iwa mengajarkan kepada saya tentang : Tujuan, Parameter, dan Feedback.

Sebagai pemimpin yang (minimal) memimpin diri sendiri, sudah selayaknya kita memiliki tujuan. Tujuan ini penting, sepenting memiliki arah gerak perjalanan.

Kedua, adalah parameter. Parameter adalah syarat ketercapaian tujuan. Artinya, parameter yang terwujudkan mengindikasikan ketercapaian tujuan.

Ketiga, feedback. Jangan melupakan pentingnya feedback untuk mengingatkan kita. Bisa jadi, ada variabel di luar tujuan dan parameter yang belum terpikirkan, yang dapat mempengaruhi ketercapaian tujuan itu sendiri. Dan seringkali, ini datangnya dari luar. Bukan dari dalam diri kita.

Demikian : tujuan, parameter, feedback..

Thursday, April 10, 2008

jadi manusia itu..

berpikir idealis, tapi bertindak realistis

menggantungkan cita-cita setinggi langit, tapi kaki tetap menjejak bumi

bervisi masa depan, tetap konkrit di masa kini

egois kepada diri sendiri, tapi tetap kontributif kepada masyarakat..


dan tetap semangat!!!

Tuesday, April 8, 2008

Jadilah anak dunia, jangan jadi anak indonesia saja!

Saya suku Bugis, salah satu suku pelaut di Indonesia. Kami dari Makassar. Senang merantau ke mana-mana. Kalau dulu pakai perahu, tanpa perahu pun kami bisa. Kami adalah para penjelajah.

Saya adalah orang balikpapan. Kota jasa di Indonesia, salah satu kota peraih penghargaan adipura berturut-turut di Indonesia. Bandara kami adalah bandar ketiga tersibuk di Indonesia. Kami adalah gerbang utama Kalimantan Timur.

Saya (pernah) sekolah di Magelang. Sama-sama kota jasa juga. Cuma kultur heterogennya mendidik saya sebagai manusia sebenar-benarnya.

Sekarang saya ada di Paris van Java ( Paris-nya Jawa ), Bandung. Salah satu koya besar di Indonesia, meski penduduknya gak banyak-banyak amat. Tapi, kultur kreatifnya terlihat hampir di setiap kepala anak mudanya. Ditambah kampus tekniknya, Bandung benar-benar menjadi teknologi dalam arti sbenarnya. Teknologi = sains, rekayasa dan seni.



Nanti, saya mau naik haji ke Tanah Suci Mekkah di Arab Saudi.

Suatu saat, saya akan berkuliah di Jepang.

Akan datang saat di mana, anda bertemu dengan saya yang sedang berwisata keliling Eropa.



Kita adalah anak-anak dunia, bung. Bukan cuma anak-anak Indonesia..

Saturday, April 5, 2008

Sistem sosial, apa hubungannya dengan modal sosial?

Sistem sosial ( Ram charan ) adalah sistem komunikasi transparan antar individu dalam tim. Sedikit banyak, ini juga menyinggung tentang solidaritas tim. Secara sederhana, mengukur sistem sosial suatu komunitas adalah dengan "membaca" transparansi komunikasi antar mereka. Apakah semua informasi disampaikan ? Kalau ada yang tidak, mengapa ? Apa hubungan antar elemen sederajat tidak harmonis ? Atau sang pemimpin yang "memberi jarak" ?

Modal sosial ( Robby Djohan ), adalah kapital yang berasal dari hubungan antar individu atau antar komunitas. Potensial kapital ini berasal dari tingkat solidaritas intern dan "bridge" ke luar sistem komunitas internal. Artinya apa, suatu masyarakat yang punya hubungan erat antar individunya dan bersedia membangun jaringan dengan masyarakat luar komunitas, memiliki modal sosial yang kuat. Komunitas seperti ini tidak bergantung sepenuhnya kepada pemimpinnya, melainkan mampu "berjalan sendiri".


Oya, modal sosial diukur dari keterikatan komunitas terhadap pola tradisi di lingkungan masing-masing. Selain itu, ada juga variabel hubungan timbal-balik ( resiprositas ), saling menghargai, pernghormatan atas keberagaman ( kita biasa menyebut dengan toleransi ), dan lain-lain.

Nah, hubungan di antara sistem dan potensi ini apa? Membahas tentang keduanya, berarti membahas sebuah hubungan timbal balik. Modal sosial yang tinggi akan cenderung menciptakan keterbukaan berkomunikasi dalam berkomunitas. Sebaliknya, sistem sosial yang kokoh akan mempererat modal sosial yang sudah ada. Belum lagi, kalau modal sosial yang kokoh ini didukung oleh karakter dan budaya "proaktif berhubungan ke luar" alias membentuk jaringan.

Thursday, April 3, 2008

Totalitas : sekalipun harus mengalami ganti hari!!

Postingan ini dimulai pukul 1:06
kira-kira sudah 2 jam sejak memulai pekerjaan di sekre himp. dari jam 11 malem sampe jam 1 dinihari. Artinya, saya masih melek di saat pergantian tanggal. Buat saya, it's ok. Gak masalah. Toh, ini bagian dari totalitas individu untuk tim.

Lucunya, tau gak. Totalitas macam ginian cuma dikerjain sedikit orang aja di indonesia. Buktinya ada banyak. Kita mulai dari pemimpin kita. Sebagian besar cuma mengeruk keuntungan finansial untuk dirinya dan kroni-kroninya. Sedikit sekali ( kalau saya gak boleh bilang gak ada ) yang berjiwa melayani dan mengabdi.

Contoh kedua. Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) kita di pemerintahan. Datang telat ( biasanya di atas jam 8 ), buat kopi atau teh, ngobrol-ngobrol dulu baru kerja. Itu juga udah jam 10-an. Jelang istirahat siang, ke luar cari makan bareng teman-teman seprofesi. Makan, shalat, segala macem, masuk kantor telat. Kira-kira 1.30, harusnya jam 1. Lanjut kerja sambil ngobrol, masuk shalat ashar. Shalat sengaja diperlama. Supaya kalau dah masuk lagi, bentar aja terus pulang.

Contoh ketiga. Mahasiswa yang datang ke kampus seadanya. persiapan kuliah seadanya, syukur-syukur kalau presensi full. Habis itu, ujian dengan persiapan MBA ( management by adrenalin ), alias belajar h-1 ( tekanan psikologis baru muncul, soalnya ). Hasilnya juga biasa-biasa aja. Gak istimewa, gak nancep lama. habisnya, prosesnya instan,siy..

Itu yang pertama:totalitas. yang kedua:bekerja dalam tim.

Kalau ilmu matematika bilang: 1+1=2. kalau ilmu kerja sama tim, saya bilang:1+1=3. Lho, satu lagi darimana? yang satu lagi adalah variabel kerja sama. Setelah 2 individu, ada satu nilai kerja sama. Makanya, nilai 3. Dalam konteks yang lebih besar di masyarakat, ini namanya modal sosial.

Cakupan modal sosial ini antara lain: tingkat kepercayaan antar individu, resiprositas (ketimbal-balikan ), dan keterikatan satu sama lain. Keterikatan satu sama lain inilah yang menjadi modal sosial kuat di indonesia. sayangnya, tingkat kepercayaan antar individu sedikit rendah. jadinya, sentralisasi maupun kepemimpinan begitu mengakar untuk suatu pencapaian tujuan.

Sementara itu dulu, mo kerja lagi ahh..

Sunday, February 3, 2008

Kemandirian untuk Daya Saing

Dalam beberapa pekan terakhir, saya memang sedang terwacanakan dan mewacanakan soal "daya saing" ini. Dimulai dengan seminar competitiveness advantage by MTI ITB, dilanjutkan dengan searching with mas google dengan kata kunci 'michael porter' atau 'daya saing' itu sendiri.
Kita mulai dengan bagaimana kompetisi itu dapat dimenangkan. Suatu kompetisi dapat dimenangkan dengan dua cara : benar-benar berjuang memperebutkan kemenangan atau justru dengan meninggalkan kompetisi itu sendiri. Yang pertama, maksudnya adalah tanpa berusaha menciptakan perbedaan dengan pesaing. Yang kedua, masuk ke dalam kompetisi yang belum ada pesertanya sama sekali. Dengan kata lain, kompetisi tanpa persaingan.
Trus yang kedua. Optimalisasi keunggulan akan jadi hal penting di sini. Makanya, pengenalan dan penggalian komptensi atau potensi jadi hal penting sebelum berkompetisi. Akan lebih baik, kompetisi yang diikuti adalah kompetisi yang sesuai dengan kompetensi atau potensi tadi. Kalo mo referensi, coba baca The Toyota Way ato Good to Great, Dua buku ini bercerita tentang optimalisasi potensi dalam kompetisi yang --pada akhirnya-- dimenangkan oleh perusahaan-perusahaan tersebut.
Yang ketiga. Makanya, menemukan keunggulan kompetitif itu berawal dari kontemplasi terhadap kemampuan diri. Kontemplasi menemukan keunggulan kompetitif sedikit-banyak berasal dari kemandirian untuk melakukan sesuatu, ini terjadi dalam segala bidang. Di akhirnya nanti, kita akan menemukan nodamg apa yangkita dapat berkompetisi dan memenangkan kompetisi itu, nantinya.
Secara tidak langsung, seharusnya kemandirian kita akan menunjukkan jalan menuju kompetisi yang tidak relevan : kompetisi tanpa persaingan. Sementara demikian dulu. Dilanjukan di lain waktu.

Tuesday, January 29, 2008

Masa depan, apa iya sebuah kepastian yang tidak bisa dihadapi?

Sesungguhnya, manusia tidak pernah benar-benar mampu memprediksikan apa-apa yang terjadi dalam hidupnya. Segala yang terjadi dalam hidup terjadi begitu saja, dalam rentang waktu yang bahkan tidak dapat diduga sama sekali, dengan peristiwa-peristiwa yang tidak bisa disangka-sangka apalagi diskenariokan sampai detail.
Tapi, bukan berarti manusia lantas berhenti berusaha, berhenti berikhtiar, apalagi berhenti ber-effort keras. Dalam beberapa hal, manusia mampu merencanakan dimensi-dimensi dalam kehidupannya,koq. Ini seperti yang dikatakan oleh Ibu Marwah Daud Ibrahim dalam bukunya "Mengelola Hidup Merencakan Masa Depan". Dengan kata lain, planning inilah salah satu yang saya garis miringkan dalam hidup. Artinya, termasuk bagian dari kerja keras dan kerja cerdas yang bisa dilakukan. Selain itu, dengan maksud meneruskan apa yang saya posting-kan dalam blog sebelumnya; yakni Five Minds for The Future, sedikit banyak juga berkait dengan menghadapi salah satu karakteristik masa depan : ketidakpastian.
The First Mind is ... Pikiran Terdisiplin. Ini menjelaskan pentingnya memiliki satu disiplin ilmu tertentu yang didukung oleh beberapa ilmu pendukung lainnya (eg:komunikasi, bahasa,sejarah, matematika,dll). Pemahaman yang mendalam disertai filosofi keilmuwan adalah ciri dari pikiran yang terdisplin ini. Kemungkinan, termasuk di antaranya adalah aspek aksiologis,epistemologi, dan ontologi. Biasanya, kata Howard Gardner, pikiran ini dicapai melalui proses pembelajaran yang memakan waktu lebih dari 10 tahun!
Pikiran Menyintesis adalah kemampuan membentuk sintesis dari pengetahuan-pengetahuan yang ada untuk diambil satu benang merah di antaranya. Bahkan, tindak lanjut dari pikiran yang mampu menyintesis ini adalah kemampuan membentuk jenis informasi/pengetahuan yang lebih baru. Kita dapat mengambil teori-teori tentang atom sebagai contoh. Sejak pertama kali ditemukan, teori-teori atom telah mengalami berbagai perubahan hingga sekarang. Dan perubahan-perubahan yang terus-menerus menyempurnakan dirinya itu adalah berasal dari pikiran-pikiran menyintesis!
Pikiran Mencipta adalah pikiran yang menginisiasi/membuat/mengadakan sesuatu hal baru; pikiran ini pastinya masih berhubungan dekat dengan kreativitas.Dan sesungguhnya, tidak pernah benar-benar ada manusia yang tidak kreatif. Percayalah!
Pikiran Merespek adalah pikiran-pikiran yang menghargai segala perbedaan-perbedaan positif maupun negatif yang terjadi di masyarakat atau antar individu. Semakin dewasa seseorang, biasanya lingkup pergaulannya akan semakin meluas. Tidak lagi di sekolah, atau kulaih. Tapi sudah masuk ke masyarakat, yang mana, memiliki lebih banyak variabel-variabel dengan perbedaan-perbedaan di antara sesama individu manusia.
Pikiran Etis adalah pikiran yang selalu berupaya untuk profesional, melakukan sesuatu pada tempatnya dan sesuai dengan konteks masing-masing. Dalam beberapa hal di masyarakat, keinginan untuk melakukan sebagaimana mestinya terkadang terhambat oleh bagaimana sikap respek kita kepada anggota masyarakat yang lain. Dan bagaimana sinkronisasi / sinergisasi antar keduanya memang bukan hal yang benar-benar mudah.
Kelima pikiran di atas, bila dikuasai secara teori, maupun aplikasinya akan sangat membantu kita dalam menghadapi ketidakpastian yang selalu datang tanpa benar-benar pernah terprediksikan. Misalnya : wawancara pekerjaan, memiliki tetangga baru, menyikapi permasalahan kompleks yang baru datang, dan lain-lain.

Sunday, January 27, 2008

Resolusi 2008

Tadi pagi, sekitar jam 10-an, tiba-tiba terasa suntuk di rumah. Berasa dah bosan dengan keadaan yang ada. Tanpa bermaksud meninggalkan amanah-amanah yang ada, belakangan emang kerasa stuck dengan variabel-variabel yang mempengaruhi hidup.
Harusnya emang gak ke "kantor" di basement labtek 7 jl.ganesha 10, tapi rasanya harus pergi ninggalin rumah deh. Tapi bukan ke "kantor" yang satu itu, melainkan jalan-jalan cari ilham. Atawa cari ilmu baru, ato tujuan hidup yang "sedikit berbeda". Jadilah saya memutuskan "wisata buku" ke Gramed.
Baru nyampe di lantai 3, yang notabene banyak buku-buku baru dan buku-buku laris, saya nemukan judul "Fieldtrip of the toyota way". Baru inget lagi ke masa silam, pernah ngerencanain mo baca buku sbelumnya, yang bahas tentang konsep 4P-nya Toyota dalam judul "The Toyota Way". Begitu meyakinkannya isi buku yang tidak membahas omzet yang dimiliki Toyota, sampe penulisnya ngasi kata-kata : it's not about technology.
Balik lagi ke "Fieldtrip of The Toyota Way". Buku ini nyeritain tentang bagaimana implementasi konsep 4P-nya Toyota dalam perusahaan-perusahaan ( semoga saya benar-benar memiliki perusahaan farmasi yang bisa mengimplementasikan 4P ). Implementasi ini jadi hal penting pastinya, begitu kita ingin menciptakan perusahaan dengan kualitas proses, budaya, produk, dan manusia yang handal seperti yang dimiliki Toyota saat ini. Terbukti, mereka menguasai pangsa pasar mobil di seluruh dunia setelah mengambil alih dari salah satu perusahaan amerika.
Tadi ada Toyota Way, Fieldtrip of The Toyota Way, dan satu lagi,niy. Saya baru nonton Dorama ( baru episode pertama,siy ) yang nyeritain tentang Kerja Keras seorang anak muda yang mo jadi koki di suatu restoran. Dan unsur kerja keras ini juga yang saya dapatkan waktu nonton " Proposal Daisasuken " sebelum-sebelumnya.
Ketiga hal di atas, semuanya berasal dari Jepang. Seeprti kata Howard Gardner dalam buku " Five minds for The Future"-nya, adalah penting memiliki panutan/benchmark. Maka, jadilah saya menjadikan Jepang sebagai benchmark -- seperti ITB menjadikan Stanford University sebagai benchmark-nya --. Terutama terkait dengan perusahaan tersohornya, Toyota dan budaya Kerja Kerasnya. Memiliki acuan/panutan seperti ini, penting dalam membangun kapasitas/daya saing pribadi/kelompok dalam menghadapi masa depan yang memang tak pernah terduga.
Suatu hari nanti, mo kuliah dan jalan-jalan ke Jepang, ahhhh......